Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Pelajaran tentang Berbagi dan Memberi


"Bu.. Ada ambulan!"

Jiwo berteriak dari jendela ruang tamu, saya-yang saat itu sedang berada di kamar-segera menghampiri dan mengintip ada apa.
"Bu.. Ada ambulan di depan umah, bu! Ada nguing-nguingnya tuh.."

Jiwo semakin heboh. Mbak Olip, perempuan yang turun dari dalam ambulan, menghampiri teras rumah kami. Saya tersenyum, membuka pintu lalu mempesilakannya masuk. Jiwo masih heboh dan takjub, dia heran kenapa mobil yang selama ini hanya ada di youtube, tiba-tiba parkir dengan manis di depan rumah kami.

"Jiwo.. Tante sama ambulannya mau bawa susu Jiwo. Boleh, yah?"

Saya jongkok di sebelah Jiwo, dia masih terus menatap penuh antusias sang mobil nguing-nguing.

"Katanya susu buat temen-temen.."

"Iya, tapikan temen-temennya jauh. Jadi susunya dianter sama ambulan ke tempat temen-temen"

"Jiwo ikut yah?"

Lalu dengan sigap dia mondar-mandir panik cari topi dan sandal. Hahahaha

"Enggak, Jiwo.. Besok yah kita ke sana. Sekarang susunya dulu"

Jiwo mengangguk terpaksa, matanya masih berbinar. Setelah kerdus susu-susu diangkut, dengan pamit, mbak Olip serta ambulannya, meninggalkan rumah kami.

Ambulan itu menuju ke Taman Baca Kudi, sebuah perpustakaan sederhana yang terletak di Gunung Tugel, Purwokerto. Meskipun masih satu kota, tapi dari rumah kami ke Gunung Tugel bukanlah perjalanan yang mudah. Saya dan Jiwo, berencana mengadakan acara berbagi susu di taman baca itu. Tapi, ternyata bapaknya Jiwo menyerah dengan medan tempuh menuju kesana. 

Kami sempat ikut menyerah, ya sudahlah, memang bukan waktunya susu-susu kami sampai ke sana. Namun begitulah berbagi, ia dan Gusti selalu punya jalan sendiri. Mbak Olip dan ambulannya adalah pertolongan yang datang menjemput pasukan susu, mereka sampai ke Taman Baca Kudi sesuai rencana. Untung sekali sedang gak ada pasien. Alhamdulillah..

***

Bukan hal yang gampang mengajari balita untuk berbagi. Apalagi usia Jiwo baru 3,5 tahun, mengajarkan konsep harta kita adalah harta orang lain juga, itu tantangan yang luar biasa untuk saya dan suami. Ditambah kami adalah pasutri yang gak pinter-pinter amat ngasih penjelasan ke anak. Lengkaplah sudah, konsep berbagi untuk Jiwo akhirnya sebatas pada yang ini nenennya Jiwo yang itu nenennya dedek bayi. Err.

Tapi tau sendiri, saya ini mamah muda yang gak kenal menyerah kecuali sama obralan kosmetik. Saya mencari cara untuk mengajarkan Jiwo tentang berbagi dan memberi, tanpa perlu ceramah apalagi nyuruh-nyuruh. Susah susah gampang, memang. Tapi toh saya gak mengejar tujuan, saya mengejar proses. Proses supaya saya dan Jiwo sama-sama belajar.

Hal paling sederhana dari berbagi dan memberi tentu saja untuk orang-orang terdekat. Paling mudah diterima Jiwo, adalah memberi kepada teman-teman. Karena kalau untuk orang tua atau pengasuhnya, dia sudah jago membagi dan memberi. Maka teman-teman menjadi 'senjata' yang saya punya.

Jiwo itu belum sekolah, dan kami gak punya tetangga yang seumuran dengan dia. Di rumah, Jiwo gak punya teman selain orang tua dan pengasuhnya. Jadi, teman-teman untuk Jiwo adalah kakak-kakak di taman baca, teman-teman penghuni rumah singgah, ataupun adik-adik yang biasa menonton ibunya. Ya maklum, saya ini tukang dongeng keliling, jadi 'penonton' saya lah yang akhirnya menjadi teman-teman untuk Jiwo.

Di rumah, kebetulan kami punya banyak sekali Morinaga Chil-Go!. Sudah gak asing dong, ya? Morinaga Chil-Go, yang memiliki banyak kandungan zat yang baik untuk tumbuh kembang anak. Seperti Kolin dan Inositol, yang berperan dalam penyimpanan memori, beripikir, berbicara dan bergerak sadar. Juga Vitamin B Kompleks, Zat Besi dan Yodium yang berperan penting pada sistem saraf dan konsentrasi anak.


Plus, Morinaga Chil-Go! juga dilengkapi dengan banyak nutrisi untuk menunjang daya tahan si kecil seperti Probiotik Insulin 1000 MG, Zinc, Kalsium, dan Vitamin A, C dan E. Rasanya? Enak banget! Terdapat 3 varian rasa yaitu cokelat, vanila, dan stroberi. Favorit Jiwo adalah rasa cokelat, dan dalam sehari dia bisa habis 7 botol susu. Duh, dek... -_-

Saya bilang baik-baik sama Jiwo, dia harus membagi susunya untuk teman-teman. Sempat menolak, karena merasa semua susu itu kesukannya dan seluruhnya adalah milik dia. Saya iming-imingi dengan acara minum susu bersama, Jiwo dan teman-teman. Berkali-kali saya ucapkan bahwa akan lebih seru kalau diminum sama-sama, lebih menyenangkan kalau minum susu ada temannya.

"Nanti sekalian kita bawa Chila dan Chilo, jadi teman-teman bisa tau Chila dan Chilo juga... Ya?"

Berhasil! Jiwo setuju dan kami menyusun rencana; acara minum susu bersama teman-teman.

Tapi saya gak berhenti sampai di situ. Karena Morinaga Chil-Go! sudah ada banyak di rumah kami, Jiwo gak perlu usaha apa-apa untuk membaginya selain belajar ikhlas. Saya gak mau. Selain paham tentang berbagi dan memberi, saya juga ingin Jiwo mengenal konsep 'tak perlu kaya untuk berbagi'. Kita gak harus bergelimang harta dulu baru memberi. Berbagi bisa diusahakan, dan ini adalah bagian yang paling membahagiakan dari berbagi itu sendiri.

Pun dengan orang yang kita beri, saya ingin Jiwo tau kalau memberi gak harus kepada orang yang kurang beruntung. Berbagi itu untuk siapa saja. Karena berbagi dan memberi sejatinya usaha membahagiakan diri sendiri, bukan mensejahterakan orang lain. Soal itu, anggap bonus.

Triknya begini,
Saya dan suami membeli dua buah botol minum. Keduanya kami beli label menggunakan sticky notes berbeda warna. Karena Jiwo belum bisa membaca, jadi kami mengandalkan warna dan bentuk. Lalu kami dan Jiwo membuat perjanjian. Tsah!

Jiwo itu anak warung banget, hobi jajannya melebihi hobi golar-goler saya. Dia sudah paham kalau mau jajan, harus pakai uang. Biasanya dia tinggal minta, nadahin tangan, kami langsung kasih. Sekarang, peraturan diubah. Jiwo baru bisa mendapatkan uang kalau dia berbuat baik, jadi setiap dia nurut, saya kasih duit koinan. Dan dengan kesepakatan, setiap uang yang dia dapat harus dibagi dua.


Satu koin harus dia masukan ke botol berbintang biru, satu koin lagi ke botol berhati ungu. Kami jelaskan pelan-pelan, kalau yang bintang biru itu punya Jiwo, yang hati ungu buat teman-teman. Dia harus membagi setiap uang yang dia punya, harus.

Berhasil? BERHASIL! Ternyata bukan hal sulit mengajak bocah 3,5 tahun membagi apa yang dia punya. Asalkan gak memaksa dan menggunakan sesuatu yang menarik minatnya. Botol minum berbintang biru dan berhati ungu adalah cara kami, saya paham betul Jiwo lagi suka-sukanya dengan warna-warna dan bentuk-bentuk. Yeah, sampai tahap ini kami sukses besar. Alhamdulillah..

Gak sampai satu bulan, botol berhati ungu sudah penuh. Artinya, Jiwo sudah berhasil berbagi hartanya pada botol yang bukan miliknya. Saya awalnya sempet heran, kok cepet banget, sedangkan botol berbintang biru milik Jiwo jumlahnya gak pernah nambah. Sedikit terus.

Lalu saya diceritain pengasuhnya, kalau tiap siang, Jiwo ke warung. Jajan biskuit, pakai uang yang ada di botol miliknya. Kalau ada kembalian, sama dia dimasukan ke botol berhati ungu. Mungkin dia merasanya, kalau uang sudah diambil, berarti sudah bukan miliknya lagi. Ya bagus sih, tapi Dek.. Yo pantes aja gigimu makin hari makin gupis, jajan terus -_____-

***

Oke, mari kita lupakan soal botol berbintang biru yang sampai tahun jebot juga gak bakal penuh itu. Dua hari lalu, saya mengajak Jiwo untuk ke toko buku dan berbelanja. Pakai uang dari botol berhati ungu karena kami akan membeli alat tulis untuk teman-teman. Tentu saja jumlahnya tidak terlalu banyak, jadi saya dan suami sepakat menambahkan kurangnya supaya Jiwo bisa belanja. Dan berhubung uangnya koin semua, sebelum ke toko buku, kami ke warung dulu untuk tukar uang.

"Jiwo.. Ini kan uangnya teman-teman, kita ke mol yuk! Beli pensil buat teman-teman.."

Saya gak nyangka juga sama reaksinya, Jiwo mengangguk mantap dan melakukan ritual andalannya: mondar mandir panik cari topi sama sandal. Ahahahaha santai aja sih, bro!

Sampai di toko, kami berbelanja alat tulis. Berkali-kali saya ajak bocah-gupis-tapi-ganteng itu berdiskusi; pensil warna apa yang mau kita beli, kira-kira teman-teman suka warna apa ya, penghapusnya yang bentuk bulat atau kotak, pensilnya mau berapa banyak, dan diskusi-diskusi kecil lainnya. Bagian kesukaan Jiwo, adalah saat menghitung jumlah pensil dan mengelompokkan warnanya. Dia semangat banget, katanya, pensilnya banyak kayak di youtube. Ahahahaha dasar anak youtube! ;D

Jiwo mengalami semua prosesnya, dari mulai uang tabungannya kami 'bongkar', kami memintanya mengumpulkan dalam plastik, menukar ke warung, lalu berbelanja dan dia melihat uangnya untuk bayar di kasir. Entah apa yang dia pikirkan ya, tapi kami yakin dia pelan-pelan memahami bahwa uang yang ia kumpulkan, sama sekali buat untuk dirinya. Karena siang itu kami gak membelikannya apa-apa dari uang tersebut. Semua habis untuk berbelanja alat tulis.

Sementara saya sibuk mengurus perlengkapan acara, di rumah, Jiwo dan pengasuhnya kebagian tugas mengemasi alat tulis yang sudah dibeli. Nah, karena perjanjian awal saya dengan Jiwo adalah berbagi Morinaga Chil-Go! yang kami punya, jadi pasukan susu tersebut sekalian dikemas bersama pensil, buku, dan penghapus. Jiwo ternyata menikmati sekali aktifitas demi aktifitas yang kami rencanakan, walaupun sekali dua kali dia bosan dan akhirnya malah main sama kerdus susu, tapi dia sama sekali gak protes melihat Morinaga Chil-Go! kesukannya dikemas dan akan diberikan untuk teman-teman.






Setelah semua selesai, tinggal diangkut deh ke tempat teman-teman berada. Yipeey!

Kami akan bermain di satu taman baca dan satu sekolah non-formal. Namanya, Taman Baca Kudi dan Sekolah Bhineka Ceria. Untuk ke Taman Baca Kudi, pasukan susu Morinaga Chil-Go! diangkut dengan bantuan ambulan oleh tante Olip. Sedangkan untuk Sekolah Bhineka Ceria, Jiwo ditolong oleh om Kemal yang datang ke rumah naik motor.



Berikut video bagaimana proses Jiwo dari menabung hingga berbagi. Saya hepi banget nontonnya, heheheh norak ya :D


Lalu bagaimana serunya kami berbagi susu kepada teman-teman? Nantikan cerita selanjutnya, ya! ;)

12 komentar

  1. Tujuh botol susu? Duh Jiwo :D mbak Pungky juga bisa banget sih nulis segini lengkapnya. Keren, ditunggu keseruan Jiwo bagi-bagi susu Morinaganya mbak :)

    BalasHapus
  2. Aaakkkk ganteeeeeng! Kamu keren sekaliiii. Semoga jiwo selalu dikaruniai hati lembut dan murah berbagi ya, Nak :*

    BalasHapus
  3. Ini pinter emaknya menuliskan. Nggak didramatisir tapi kena. Terima kasih Pungky, sudah menginspirasi.

    BalasHapus
  4. Pungki.....keren deh....so inspiring!

    BalasHapus
  5. Jiwo dan emaknya duet kereeen!

    MANTABBB :)

    BalasHapus
  6. ide uang yang di dua botol minumnya menarik, mungkin akan saya terapkan jg utk anak saya klo nanti dia kenal konsep uang, skrng blm ngerti hehe

    TFS :)

    BalasHapus
  7. Ankku aku ajarin berbagi pake Cara lain mba. Sharing makanan di paudnya :).JD sngaja makanan bekalnya kita lebihin spy dia bisa ngasih bu guru Dan temen2 lain nyobain bekalnya :).memang hrs Dr Kecil sih sharing ini diajarin. :)

    Btw ITU ambulannya kpunyaan Sedekah rombongan yaaa ^o^. Aku jg srg pake jasa mrk kalo MW nyalurin infaq

    BalasHapus
  8. Wuah Jiwo keren, sudah pinter berbagi :)

    BalasHapus
  9. jiwo yang matang jiwa, loveyou nak

    salam
    riby

    BalasHapus
  10. Jiwo, terima kasih karena kamu udah mengajarkan kita banyak hal, sehat terus ya nak.

    Salam,
    Rava.

    BalasHapus