Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Kok Sering Viral Sih, Rahasianya Apa? Ini Lho...



Salah satu tulisan di blog ini, pageview-nya tembus 300ribu dalam 2 hari. Itu dicapai dengan tanpa optimasi SEO, tanpa di-boost di fanpage, dan tanpa sponsored post di instagram. Kami mencapai itu dengan satu trik: viral!

Trik? Iya. Jangan kira segala yang viral dari blog ini adalah ketidaksengajaan. Semuanya hasil 'produksi', salah satu strategi digital marketing yang kami lakukan demi membuat blog ini melebarkan sayapnya dan terbang lebih tinggi. Dan sekarang, kami mau bongkar rahasia dapur kami saat memproduksi konten-konten yang memiliki potensi viral.



1. Rencanakan

Direncanakan? Iya. Hampir semua konten kami yang viral, itu sudah direncanakan. Kami buat oret-oretan, akan buat konten tentang apa, dinaikkan di blog atau sosmed yang mana, siapa yang bakal eksekusi, pembagian tugasnya gimana, dengan gaya penyampaian kayak apa, bahkan sampai resiko-resiko yang terjadi saat konten itu viral, sudah kami prediksi.

Sadar nggak sih, konten-konten viral kami itu jarang ada yang bisa dibantai? Pasti selalu ada di ranah aman, dari sudut pandang tulisan maupun isi konten. Ini nggak kebetulan, lho. Sudah kami susun dari sebelum klik publish. Bukannya cemen, tapi kami memang nggak mau viral karena hal yang kontroversial, viral karena dihujat atau dihina orang. Bukan itu tujuan kami. Kami maunya viral untuk hal-hal yang baik, yang bermanfaat, yang bersahabat.

Sadar juga nggak, konten-konten viral kami, pasti fotonya nggak kelihatan wajahnya? Baik wajah Jiwo, maupun wajah kami sebagai ibu dan bapaknya, sekaligus penulis. Padahal di konten yang lain, wajah kami ini nampang dimana-mana. Itu disengaja, lho. Sengaja pakai foto yang wajahnya nggak kelihatan, karena kami SUDAH TAU, konten itu akan viral. Kami sudah MERENCANAKAN, konten itu untuk viral. Dan kami nggak mau wajah kami ikutan viral.

Jadi konten itu kami 'siapkan', sebelum kami lepas ke jagat dunia maya dan di-share ratusan orang. Ibarat anak yang mau berangkat sekolah, kami pastikan semua yang dia perlukan sudah masuk tas, kami bekali jas hujan kalau-kalau kehujanan, kami rapikan seragamnya sebelum dia pergi, kami sisir rambutnya supaya rapi, kami siapkan baik-baik semuanya. Kami adakan rapat kecil berdua membahas konten viral yang akan kami naikkan. Saat si konten berhasil viral pun, kami pantau terus. Kenaikan trafiknya seperti apa, share yang banyak dari sosmed yang mana, konten seperti apa yang paling meroket. Kami catat, jadikan bahan evaluasi.



Tapi nggak semuanya konten viral kami itu direncanakan, ada satu dua yang diluar prediksi. Tulisan "Atheis Paling Sederhana", misalnya. Itu sama sekali nggak direncanakan untuk viral, tapi pageview-nya hampir setengah juta dalam seminggu. Atau "Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu..", di-share sama lebih dari 23ribu orang di facebook. Itu di luar perkiraan kami. Makanya waktu banyak yang menghujat dan menghina, kami shock, karena nggak siap sama sekali. Artikel itu berangkat tanpa kami bekali apa-apa, kami lepas gitu aja dan ternyata viral.

Tapi sejak kejadian dihujat habis-habisan itu, kami jadi belajar. Mulai waktu itu, baik artikel yang direncanakan viral, maupun artikel biasa, akan kami siapkan sebelum kami lepas. Semua konten berhak dapat perlakuan yang layak, berapapun jumlah audience-nya.

2. Riset!

Konten parenting pakai riset segala? Hoiya dong! Riset di sini maksudnya, kami memperhatikan apa yang lagi disukai sama netizen, dan sesuaikan dengan niche kami. Kalau blog ini, ya kami perhatikan perilaku netizen yang berkaitan dengan dunia anak dan parenting. Kalau blog ibu, kami perhatikan apa yang mereka suka dari dunia perjalanan dan kecantikan. Kalau blog bapak, sedang dipersiapkan konten viral pertama tentang Banyumas, hasil kami memantau sosmednya orang-orang di daerah kami.

Kami perhatikan, apa yang biasa di-share sama ibu-ibu di sosmednya. Kami pelajari motifnya, lalu kami bedah kontennya. Kenapa itu bisa sampai viral, bahasa seperti apa yang mereka pakai, bagaimana mereka mengemasnya, channel apa yang mereka pakai untuk menjebol tembok viral, kami bedah sampai ke teknik penulisan judul. Lalu kami catat poin-poin yang penting, kemudian pelan-pelan kami aplikasikan ke konten yang kami buat.

Kunci matinya: Kalau kami jadi pembaca, konten apa yang bikin kami klik share?

Namanya viral ya, yang kita andalkan adalah share orang-orang di berbagai platform sosial media. Jadi kami selalu memosisikan diri sebagai audience, kira-kira apa yang bikin kami klik share atau dengan sadar membagikan konten itu di sosmed kami. 

Inget waktu foto-foto mainan Jiwo viral di facebook? Itu setelah kami memperhatikan di sosmed, banyak ibu-ibu yang 'haus' dengan ide permainan semacam itu. Setiap ada yang share dari pinterest, pasti banyak yang reshare. Trus kami mikir, kenapa kami nggak bikin yang lebih membumi? Yang fotonya nggak ambil dari pinterest, yang keterangannya pakai bahasa Indonesia sehari-hari, yang bahan dan alatnya mudah ditemui ibu-ibu Indonesia.

Oh iya jelas kerja keras. Membuat 30 mainan itu bukan hal yang mudah, pun masih harus memotret satu-satu lalu mengedit setiap fotonya. Mengondisikan Jiwo supaya fotonya bagus dan berkualitas, masih juga merangkai caption satu demi satu. Dan itu kami kerjakan hanya berdua.


Hasilnya? Album foto itu di-share 38ribu orang, dan blog ini diberi reward uang tunai yang jumlahnya sangat banyak oleh brand, yang namanya kami sertakan dalam album itu. Bayangin, tiba-tiba dijebret duit juta-juta karena konten viral, riset dan kerja keras kami terbayar lunas.

Selain riset, setiap konten selesai dibuat, biasanya juga akan kami review. Kami baca atau lihat ulang berkali-kali, trus tanya ke diri sendiri: kalau ini ada di blog orang, gue bakalan share gak? Kalau diri sendiri aja jawab enggak, kami akan review lagi, cari celah dan sudut pandang lain. Terus begitu sampai diri sendiri bilang yes. Kalau tetep enggak, yasudah, ikhlaskan konten itu jadi konten biasa. Kan enggak semua konten harus viral, tho?

3. Bangun Konten yang Share-able

Gimana bisa berharap viral, kalau konten kita di-share di sosmed yang... private? Ini juga kami hasil belajar dari akun-akun besar yang sering viral. Gimana mereka memperkerjakan sosmednya. Blog ini, 80% pembacanya melalui smartphone, maka kami membuat blog ini mobile friendly. Di antara kami berdua (bapak dan ibu Jiwo), yang sosmednya lebih hidup itu ibu. Maka distribusi konten-konten kami, lebih mengandalkan sosmednya ibu dibanding bapak.

Saat di post di facebook pribadi (bukan fanpage), pastikan set public. Mudahkan audience nggak hanya klik share, tapi juga berbalas komentar dengan kita. Lagi lagi, kami selalu ingin viral karena hal yang baik. Jadi kami selalu terbuka untuk berkomunikasi dengan banyak orang, supaya mereka lebih nyaman klik tombol share.

Kami pelajari fitur-fitur fanpage facebook, oh ternyata kalau share artikel di sana thumbnail-nya bisa banyak, tapi malah mengurangi potensi share karena orang ngeliatnya jadi ribet. Maka kami membuat thumbnail-nya hanya satu. Oh kalau share dari fanpage, ada pilihan mengikutsertakan caption fanpage atau enggak. Kalau share langsung ternyata mengurangi perhatian orang, tapi trafik fanpage bisa ikut naik. Kalau pakai caption baru, lebih rapi dan lebih shareable, tapi si fanpage nggak akan ikutan viral.

Oh foto pertama di postingan itu bakal jadi thumbnail saat kita share di sosmed, jadi pilihlah foto terbaik yang menarik perhatian. Oh kalimat "Klik share kalau bermanfaat" ternyata memang mempengaruhi psikologi pembaca, sedikit banyak mereka akan terpengaruh. Tapi kalau semua konten disisipi gituan, audience malah merasa jengah karena kesannya diatur-atur. Harus pintar memilih kapan pakai dan kapan enggak.

Kami pelajari banyak hal, dari itu tadi, akun-akun besar yang sering viral. Kayak konten, kami bedah trik sosmednya. Bagaimana mereka membangun konten yang memancing share. Bagaimana mereka mengondisikan sosial medianya.

Kuncinya: JEBOL PINTU!

Ini trik. Setiap punya konten yang kami rencanakan viral, setelah publish, kami akan minta satu atau dua teman untuk share. Biar apa? Biar jebol. Pakai prinsip bola salju, setelah ada satu atau dua share, nanti makin lama makin nambah, makin menyebar, makin banyak yang baca, banyak lagi yang share. Ke temennya juga minta tolong baik-baik, biasanya lingkaran temen-temen blogger ibu, atau teman-teman jurnalis bapak. Dan kami selalu posisikan, si teman ini relate dengan konten. Jadi dia share karena ya nyambung dengan hidupnya, enggak sekedar karena kami minta tolong.

Buat kami ini penting sih, karena orang pasti akan lebih gatel buat ikutan share, saat konten itu di share sama orang lain, bukan sama penulisnya langsung. Iyalah, kalau penulisnya mah pasti share. Tapi kalau orang lain yang melakukan, itu konten pasti ada apa-apanya, dan mereka akan buka karena penasaran, kalau suka, akan share juga. Terus begitu semakin lama semakin banyak, tanpa perlu ads. Bola salju.

4. Stand Out!

Konten bagusnya kayak apa, kalau sudah banyak yang buat, ya bakalan susah viralnya. Makanya, kalau ide konten kami standar, biasanya kami ambil sudut pandang yang beda. Misalnya tulisan "Kepada Para Suami, Saya Mohon, Bacalah Sebentar", itu ibu Jiwo sudah pernah nulis berkali-kali, tapi pembacanya sedikit. 

Atas tekad kami menyebarluaskan edukasi PPD, kami memproduksi artikel yang direncanakan viral. Harus banyak keluarga baru yang mengerti soal depresi paska persalinan ini, dan kami tau viral adalah jalan yang tepat. Setelah diskusi panjang, kami nemu celahnya: bapak yang menulis! Karena selama ini, pengetahuan soal PPD hanya dibagikan dari ibu ke ibu, maka kami mendobrak dengan pengetahuan PPD dari bapak ke bapak. Berhasil, tulisan itu dibaca ratusan ribu orang, yang meminta e-book buatan kami, sampai hari ini, tercatat 600 email lebih. Lihat saja komennya, sampai 400an.



Cari celahnya! Buat konten yang belum banyak dipublikasikan orang, kalaupun sudah, buat dengan gaya yang baru. Lebih segar, unik, dan tentu berkualitas.

5. Membumi

Konten viral akan di-share oleh sangat banyak orang, jadi konten itu harus membumi. Ramah pembaca. Kalau kami, pakai gaya bahasa sehari-hari, fotonya juga meskipun nggak bagus-bagus amat tapi enak dilihat. 

Terus belajar nulis. Urusan titik koma itu kelihatannya remeh, tapi berpengaruh banget sama betah atau enggaknya orang sama tulisan kita. Semua tulisan kami di blog ini, rata kanan kiri, bahasa asing selalu dimiringkan, tanda baca kami perhatikan betul. Meskipun pakai bahasa sehari-hari, tapi kami berusaha patuh EYD.

Karena orang baca itukan pasti dilafalkan ya-meskipun cuma di hati. Jadi bagi kami 'nada' tulisan itu penting banget. Orang baca bakal ngos-ngosan terus ngakak, atau mendayu-dayu terus baper, itu penulis yang menentukan. Kemana tulisan bakal dibawa, di situlah kami menentukan alunannya. Dan tulisan yang patuh EYD itu bukannya bikin kaku, tapi bikin rapi. Lebih bikin betah dibacanya.

Kami berusaha buat tulisan yang compact, meskipun nggak panjang-panjang amat, tapi semua yang mau kami sampaikan harus masuk. Kalau kepanjangan, ya dipecah aja jadi tulisan lain. Karena kalau kepanjangan, meskipun yang kita bahas memang banyak, orang akan malas bacanya. Dan kalau mereka nggak baca sampai habis karena keburu bosan, gimana bisa tertarik untuk share?

Terus belajar motret. Karena selain tulisan, konten kami juga mengandalkan foto. Malah sekarang kami mulai belajar produksi video. Foto cerah dan enak dilihat, pasti lebih bikin betah orang daripada foto burem dan burek. Kami bukan penganut konten viral-harus-dilingkar-merah-padahal-foto-apaan-tau. Kami percaya konten yang baik punya jalannya sendiri. Lagian, kami pernah coba tuh pakai lingkar merah segala di foto. Viral? Enggak -_- 

Kami berusaha produksi konten yang membumi, yang ramah mata semua orang. Karena kami berharap disukai dan di-share banyak orang.

6. Jujur

Meskipun direncanakan viral, bukan berarti konten harus dibuat-buat dan mengada-ada. Kami pantang sama itu. Sekali lagi, kami mau viral untuk hal-hal baik, yang bermanfaat. Bukan karena bohong, karena kontroversial, atau karena dijadikan public enemy.

Tulisan "Atheis paling Sederhana", ya itu asli kami pernah makan cuma sama kecap. Bukan dibuat-buat diseting menderita atau apa biar viral. Kami percaya, pembaca itu punya rasa. Pasti kebaca kok mana konten jujur, mana konten yang dibuat-buat. Dan kami nggak mau ditinggal pembaca hanya karena dibuat buat itu. Kami punya pembaca karena kami menulis apa adanya.

Menulislah pakai hati, bikin pembaca nyaman. Beneran deh, mengada-ada itu cuma akan bikin si konten jadi kosong. Cuma sampai ke mata pembaca, nggak bakal nyangkut di hati, nggak bakal diinget. Setelah baca, akan dilupakan gitu aja. Boro-boro share, baca pun mereka pasti merasa anyep. Karena kita mengarang, bukan berbagi cerita.

Inget kan prinsip kami yang selalu diulang-ulang ibu Jiwo: Kami Curhat maka Kami Viral. Hahahahaha Semua konten viral kami ya memang curhat. Hal sehari-hari yang kami kemas menjadi konten, yang memang beneran terjadi di kehidupan kami. Semuanya produksi sendiri, tulis sendiri, foto sendiri, edit sendiri. Karena bagi kami, kopas itu dosa besar, dan kami menjauhkan itu sejauh-jauhnya.

Tapi, walaupun jujur, bukan berarti kami tanpa filter. Kayak yang tertulis di atas, kami mengemas curhat menjadi konten. Jadi bukan curhat yang di-publish, tapi konten. Kami memilah, mana yang aib, mana yang bukan. Mana yang layak diketahui orang banyak, mana yang sebaiknya hanya disimpan oleh kami sendiri. Securhat-curhatnya, kami nggak mau mengumbar aib kami sendiri.

7. Ikhlas

Ini pasti terbaca aneh, tapi percaya nggak percaya, ini trik terakhir yang kami lakukan saat produksi konten viral. Setelah konten jadi dan publish, ya sudah, ikhlaskan. Biarkan dia menemui jalannya. Direncanakan kayak apapun, kalau belum rejekinya viral ya nggak akan viral. Kecuali pakai bayar-bayar ads atau sponsored post itu di sosmed.

Saat klik publish, pastikan ikhlas menyertai si konten. Jadi kalau sudah direncanakan dan ternyata nggak viral, ya kita nggak akan kenapa-kenapa. Besoknya belajar lagi, buat lagi, coba lagi. Kalau ternyata viral besar dan banyak yang menghujat, ya sudah. Segala hinaan adalah bagian dari resiko. Ini susah sih, karena di artikel viral kami yang terakhir, ternyata susah ikhlas saat di cap keluarga nggak bener. Ya gimana, itukan nggak direncanakan ya, jadi pas dihujat, kami seratus persen enggak siap.

Kami juga masih belajar soal yang satu ini. Menyerahkan konten pada luasnya dunia maya beserta serigala dan harimaunya. Dikopas itu kami sudah puluhan kali banget. Kalau search salah satu judul tulisan viral kami di google, pasti kopiannya berjejer-jejer. Dari akun personal sampai media besar. Dulu-dulu kami sebel, sekarang ya sudahlah. Mau gimana lagi, namanya juga dibaca sangat banyak orang, kemungkinan-kemungkinan buruk semacam itu pastilah ada. Ikhlaskan saja.

Karena kalau tanpa ikhlas, kita bakal mandek. Dihujat sekali, besoknya nggak akan coba lagi, nggak mau belajar lagi, karena jiper sama omongan orang. Dikopas sekali, langsung baper berkepanjangan dan ogah nulis lagi. Itu bakal mematikan kita, baik secara kreatifitas maupun kegigihan berkarya. Kalau tanpa ikhlas, kita bisa ditinggal audience karena dikit-dikit baper dikit-dikit ngedumel. Nggak terima dihujat, langsung hujat balik.

Ikhlas, yang penting konten kita baik, tujuan kita baik.

**

Buat Apa Konten Viral?


Kenapa konten viral itu penting? Seperti yang kami tulis di awal, ini adalah salah satu strategi digital marketing kami untuk membuat blog ini mengepakkan sayapnya lebih tinggi. Kami butuh promosi untuk membuat blog ini lebih dikenal orang, lebih banyak dibaca, dan itu kami tempuh dengan konten viral.

Strategi digital marketing lainnya banyak sih, kayak optimasi sosial media, optimasi SEO, personal branding, blogwalking, arisan link (kapan-kapan kami ceritain yaa.. Ini geng bloggernya ibu Jiwo yang punya gawe), sampai merancang visual branding demi memeluk lebih banyak audience.

Viral ini hanya satu dari sekian banyak cara itu. Dan nggak cuma bisa dipakai oleh blogger lho, bisa juga untuk perusahaan yang pengin mempromosikan produknya di dunia maya. Ya jaman sekarang, orang akan lebih dulu nanya sama internet sebelum memutuskan membeli apa-apa. Makanya digital marketing itu penting banget, dan viral ini bisa jadi salah satu jalan.

Contohnya kayak album foto permainan Jiwo di atas itu, di-share sama 38ribu orang dan kami mencamtumkan sebuah brand susu formula di dalamnya. Itu angka 38ribu baru yang share ya, kalau setiap share dilihat oleh 5 temen fesbuknya. Sudah berapa yang lihat? 190ribu. Bayangkan, promosi kita dilihat 190ribu orang, itu angka yang nggak main-main menurut kami.

Kalau nggak bisa produksi konten sendiri, kan bisa pakai Digital Agency. Agensi-agensi semacam ini sekarang mudah ditemui, dengan kualitas yang tentu terjamin ya karena mereka profesional.

Baiklah, kayaknya segitu aja yang bisa kami bagikan. Ibu Jiwo sempat protes waktu bapak mau menulis ini, katanya ini rahasia dapur buat apa ditulis. Tapi sekali lagi, kami sudah dapat sangat banyak rejeki dari berbagi. Dan kami yakin, berbagi rahasia yang ini juga pasti punya rejeki tersendiri untuk kami. Akhirnya ibu Jiwo malah bantu menulis. Kami menulis berdua dan inilah hasilnya. Panjang yaaa? hehehehe

Semoga bermanfaat ya teman-teman. Selamat melesat dengan konten kalian masing-masing, percayalah setiap hal baik pasti dikasih jalan yang baik. Ish sok bijak banget, ketauan paragraf ini yang nulis bapak Jiwo karena ibu mah gak mungkin nyahahahahaha.

40 komentar

  1. Aku itu lho, kagum sama kalian berdua, seperti yang ditulis di atas, berani berbeda, namun juga ikhlas, meskipun menggunakan perencanaan, juga tetep apa adanya, jujur, dan -bacaable-. Aku beberapa kali juga share postingan Mak Pung baik di sini maupun di Galaksi Pungky sama si dia di pelataran Pe Ka Em (pasti tau inimah ngahaha) dan dia bilang: Ini Mak Pung yang narsisnya minta ampun ini keren, plus suaminya juga mendukung.

    "Menulislah pakai hati, bikin pembaca nyaman." benar sekali, aku sekarang jarang menemukan tulisan yang gila sekalian atau dari hati, kebanyakan ngejar keyword atau ala-ala robot.

    Cetar selalu, Mak Pung dan keluarga! Keep inspiring :D

    ((((cetar))))

    BalasHapus
  2. Wah tips marketingnya beda dari yang lain. Jujur, ikhlas, membumi. Moga ya sukses ya

    BalasHapus
  3. Wah selain seneng baca dari tulisan mbak pungki dan suami, aku juga dapat ilmu banyak. Terutama ngeblog. Oh begitu oh begitu. Kira lira begitulah tanggapan dariku yang masih belum bisa Viral. Hahaha.

    Tetep bisa aja nyisipin sponsor. Hehe. Semoga sukses lombanya

    BalasHapus
  4. O my Gooooddddd.... Pungky I looove youuuu

    BalasHapus
  5. Ini tulisan bisa jd viral juga nihhh.. Manteb!

    BalasHapus
  6. Dulu ke blog ini berkat share temen di facebook mbak...ternyata ini nih strateginya...sukses ya mbak

    BalasHapus
  7. Mantep nih sharingnya. Mudah-mudahan bisa nulis dan ikutan viral juga, hehehe

    BalasHapus
  8. makasih rahasianya mba keren bgt ih 👍👍

    BalasHapus
  9. Yakin deh ini juga akan jadi viral.. terima kasih sudah berbagi bapak ibu jiwo.. sukses selalu yaaa

    BalasHapus
  10. Lengkap banget infonya Bapak dan Ibu Jiwo. Moga rejeki kalian lancar2 terus ya.

    BalasHapus
  11. Keren keren keren. Makasih banyak ilmunya.

    BalasHapus
  12. Aku dah baca tapi masih tersendat-sendat nyampe ke otakku Pung, ini sambil bikin soal Try out UN hahaha.
    Tapi aku yg suka dari km tuh (tulisannya) ringan sih tapi berbobot jadi wajar kalau viral. Cihuy
    Good luck

    BalasHapus
  13. aku suka mbak pungki selain tulisannya, juga orangnya. :) Terkenal tapi tetep ramah dengan blogger lain. Itu yang susah jaman sekarang, adanya udah terkenal, trus merasa PRO.
    Aku mau belajar nulis viral tapi masih susah ambil peluang... kudu peka nih...

    BalasHapus
  14. Aku manggut-manggut aja bacanya. Dan bikin inget2 artikelnya kalian. Terus bikin aku klik balik lagi artikel itu. Ini semacam artikel how-to yang juga menjebakku utk re-read sekaligus bikin mendoakan kalian menang lomba. Terima kasih ya, untuk kejujuran dan ketulusan kalian dalam berbagi.

    BalasHapus
  15. Wow keren perencanaannya
    Detail sekali
    Banyak belajar dari tulisan ini

    BalasHapus
  16. Aihhh, ngefans lah saya sama Pungky dan keluarga kece ini!
    Dan saya yakin postingan ini juga bakal mendatangkan hadiah juta-juta. Amiiin dong~

    Amiiiiiin...

    BalasHapus
  17. wah, tips2nya sangat berharga. terimakasih sudah berbagi :)

    BalasHapus
  18. Walaupun dibeberin di sini rahasiany..tetap saja kayaknya memang tergantung penulisnya juga Mbak Pung. Haha. Tapi salut juga pas baca bagian yang ga siap viral kemudian malah jadi viral dan dihujat. Aduuuh, kayaknya bisa ngga bisa tidur saya mah, ngebayangin netizen sekarang kata-katanya bikin speechless banget kalau sudah menghujat. Ya, ngga semua sih. Semoga sukses ya Mbaaak lombanya.

    BalasHapus
  19. Semoga makin sukses bapak dan ibu jiwoo..., dibalik viral ada totalitas warbiyasa #hormat suhu :)

    BalasHapus
  20. Aku awal2 main k blog ini juga karena share dari FB.. :D Keren bgt Mba Pung n suami.. Kalian ruuaarrr biasaaaa.. :D Sukses yaah lombanya..

    BalasHapus
  21. Akhirnya, isi dapurnya terbongkar. Izin copi resepnya mami papi jiwo ya.

    BalasHapus
  22. Makasih Tips nya... Aku belum bisa curhat nih... Gimana mulainya ya?
    ��������

    BalasHapus
  23. Viral utk hal yg manfaat...keren ^^ . .
    Selalu menginspirasi..sukses yaa mba

    BalasHapus
  24. Wah...kalian tuh yaaa. Keren-keren pake banget. Salam untuk Jiwo. Bahagianya punya bapak-ibu seperti kalian...

    BalasHapus
  25. Aduh aduh, makin salut sama kalian. Tambah lagi deh setelah kompak, menginspirasi, cetar membahana, dan nggak pernah pelit berbagi ilmu. Bahagia selalu untuk kalian! <3

    BalasHapus
  26. Tulisan mba Pungky mah selalu enak dibaca. Makanya dishare terus sama banyak orang. Keep a good writing, mba! :)

    BalasHapus
  27. Wow,inspiratif banget. Thanks for sharing :)

    BalasHapus
  28. Saluut ^^

    mana yang aib, mana yang bukan. Mana yang layak diketahui orang banyak, mana yang sebaiknya hanya disimpan oleh kami sendiri. Securhat-curhatnya, kami nggak mau mengumbar aib kami sendiri.

    Bener banget.
    Asal gak drama :D

    BalasHapus
  29. Makasihh mak pun, sukses selalu Buat semua blognya, muaahhh

    BalasHapus
  30. manteeep tipsnya mamih Jiwoo...
    nyatane konten2 di blog ini shareable..serius.

    BalasHapus
  31. Noted BuJi (Ibu Jiwo :D) Ngga salah aku mengidolakanmuuu..

    Sik sik..karena aku pembacamu yang ngga melewatkan sehuruf pun, ini kayaknya sponsored post ya? Hahaha.. Eleghaaaan tenan.

    BalasHapus
  32. Ini yang membedakan antara tulisan-tulisannya Bapak-Ibunya Jiwo, walaupun sudah dibagi tips tetep aja ya aku "ndomblong" bacanya. Begini ini ya di balik layar suksesnya blog keren..

    BalasHapus
  33. banyak belajar dari emak dan bapaknya jiwo, benar - benar harus ikhlas ya, apalagi yang konten "Pergilah Bu, bahagiakan dirimu" ada yang share di berandaku dengan disertai perkataan yang memojokkan, haduh rasanya yang baca harus siap mental, apalagi yang nulis :))

    BalasHapus
  34. Aku kalo baca blogmu, pasti dibaca habis sampe akhir kata walaupun panjang mbak. Even komennya aku baca satu-satu. Tulisannya ringan tapi berbobot :')

    BalasHapus
  35. Sukaaaa banget ibu Jiwo gak gak pelit bagi-bagi resep rahasia ihhh kereeen.
    Makasih banyak sharing ilmunya, mau aku terapkan juga. Masih banyak hal yang perlu dipelajari untuk survive di dunia digital ini. :)

    BalasHapus
  36. Kamu blogger favoritku mba :D. Banyaak bgt belajar kalo udh baca tulisanmu.. Enak dibaca, ga bosenin, bikin akunya juga slalu pgn belajar dlm menulis blog. ;)

    BalasHapus
  37. Waktu itu baca cerita di blog ini yang judulnya "Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu" dan jadi suka ngikutin cerita di blog ini. Makasih udah share tips nya mbak :)

    BalasHapus