Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Suleten, Mitos dan Faktanya


Awalnya, saya kira Jiwo cuma beruntusan biasa. Biang keringat atau semacamnya. Ternyata semakin hari, beruntusannya semakin banyak dan jadi besar-besar. Bentuknya juga gak seperti biasanya, jadi seperti luka kebakar atau melepuh. Kata eyangnya (mertua saya), Jiwo ini Suluten, atau ada yang bilang juga Suleten. Menurut orang Jawa, Suleten ini karena ada pakaian Jiwo yang terbakar, jadi kulit Jiwo ikut melepuh. Saya lantas mikir, apa hubungannya?

Gak mau dikalahkan rasa bloon. Saya pun cari tau banyak-banyak soal Suleten ini. Berikut informasi yang berhasil saya keruk.

Mitos

Menurut kepercayaan orang Jawa, pakaian bayi atau balita itu gak boleh dibuang apalagi dibakar, karena mereka yakin bahwa masih ada sinergi antara pakaian dengan si anak. Akibatnya, saat pakaian dibakar, kulit si anak akan ikut terbakar atau melepuh. Penyakit kulit ini biasa disebut Suleten atau Suluten. Mengobatinya, mudah saja, cukup dengan memarut kunyit lalu menggorengnya, hasil gorengannya dibalurkan ke badan anak yang melepuh. Gak perlu ke dokter dan gak perlu perawatan apa-apa lagi.

Fakta

Itu mitosnya. Saya gak bilang itu salah, tapi saya juga gak mau membenarkan. Karena bagaimanapun, itu hanya bagian dari kepercayaan masyarakat karena jaman dulu belum dikenal tetek bengek keilmuan. Betul, bahwa Suleten adalah bagian kulit melepuh yang biasanya terjadi pada bayi, balita atau anak-anak. Betul, bahwa kunyit dapat menyembuhkan Suleten (namun akan saya jelaskan kemudian mengapa saya gak setuju kalau harus digoreng). Tapi salah besar, kalau dikatakan penyebabnya adalah pakaian anak yang di atau ter bakar.

Suleten, secara ilmiah dikenal dengan nama Impetigo. Ada juga yang menyebutnya cacar api atau cacar monyet (monkeypox). Penyakit ini timbul akibat infeksi bakteri bernama Staphylococcus dan Streptococcus. Biasanya, Impetigo menyerang anak usia 2-14 tahun. Penyakit ini menular melalui luka yang bersentuhan dengan kulit lain. Makanya, anak yang terkena Impetigo sebaiknya diasingkan dulu dari teman-temannya sampai sembuh. Karena kalau temannya sampai tersentuh dengan luka, atau bahkan sekedar bersentuhan dengan mainan yang pernah disentuh luka sang anak, maka temannya sangat mungkin tertular.

Impetigo ini banyak macemnya. Ada yang menyerang wajah (biasanya sekitar hidung dan mulut), ada yang muncul di kepala, ada yang hanya menyerang bagian tubuh (tangan, kaki, punggung, leher, dll), ada juga yang menyerang sampai lapisan kulit dalam. Nah, yang paling banyak terjadi adalah Impetigo yang menyerang wajah dan badan. Kalau Jiwo, yang kena paling banyak adalah tangan, kaki dan pantatnya. Alhamdulillah, kenanya cuma di badan. Saya lihat gambar-gambar yang kena di wajah, rasanya merinding, ngeri! Ada yang sampai susah buka mata saking mukanya penuh koreng. Ada juga yang bibirnya sampai hilang ketutupan luka. Duh, jangan sampai Jiwo kena yang begitu. Gak bakal kuat liatnya :(

Banyak orang tua yang sulit membedakan Impetigo dan cacar air. Begini, sotoynya saya ya, kalau cacar air itu lebih ‘basah’, bintiknya berair banyak. Biasa disertai demam tinggi dan anak yang mendadak lemas. Nah, kalau Impetigo, bintik-bintiknya berair namun gak banyak. Cenderung kering dan lama kelamaan akan jadi koreng seperti kulit melepuh atau terbakar. Makanya, Impetigo ini biasa juga disebut Cacar Api, karena memang kulit nantinya akan seperti terbakar api. Dalam bahasa Jawa, kena api itu disebut kesulut. Makanya, namanya jadi Suluten atau Suleten. Pas saya dan suami menyimpulkan ini, kami cuma bisa “ooooh” dengan sangat kompak dan penuh cinta. *haitsah*

Tanda dan Gejala

Tanda-tanda anak terkena Impetigo, diawali dengan kulit seperti bruntusan atau bintik-bintik. Nah, lama kelamaan, bintik-bintik ini membesar dan berair. Selanjutnya, akan berubah seperti kulit melepuh atau terbakar. Impetigo juga biasanya dibarengi dengan biang keringat yang banyak dan mencar-mencar. Ini yang awalnya bikin saya panik bukan main, karena biang keringatnya Jiwo tiba-tiba banyak sampai ke telapak kaki dan daerah selangkangan.


Ada Impetigo yang disertai demam dan lemas, ada juga yang tanpa apa-apa selayaknya anak sehat. Ada yang gatal dan perih, ada juga yang sama sekali gak kerasa. Jiwo contohnya, awal Impetigo, badannya sama sekali gak demam dan gak garuk-garuk. Pas lukanya mulai membesar, saya coba colek-colek, sekedar ngetes apakah perih atau enggak. Hasilnya, Jiwo diam aja dan tetap ketawa ketiwi. Bahkan waktu beberapa lukanya kegesek mainan, dia tetep cengengesan.  Entahlah, ini Impetigonya atau anak saya yang ajaib :|

Awal mula Impetigo

Penyebab

Penyebabnya adalah bakteri bernama Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Dua bakteri nyebelin ini, masuk ke dalam tubuh melalui luka kemudian menginfeksi. Jadi, Impetigo sangat mungkin disebabkan oleh kontak dengan mereka yang sudah terinfeksi duluan. Atau bisa juga lewat benda-benda seperti handuk, mainan, sprei, alat makan, pakaian, dll. Bahkan, Impetigo bisa menular melalui sentuhan lho.. Jadi, misalnya ada orang tua yang menyentuh luka Impetigo, lalu belum cuci tangan sudah menyentuh anak lain, mungkin banget si anak lain ini kena. Apalagi kalau anak lain itu punya luka. Makanya, kalau anak punya luka, sebaiknya dijaga dan dirawat baik-baik karena banyak bakteri yang mencoba menyusup lewat situ. Hiiy!

Penanganan

Kata beberapa sumber, Impetigo akan sembuh sendiri dalam 1 sampai 2 minggu. Asal anak selalu dijaga kebersihannya dan selalu mandi menggunakan antiseptik. Tapi, saya mah gak tegaan. Liat anak kulitnya melepuh-melepuh begitu, hari ketiga (hari ini), langsung saya angkut ke klinik. Sama dokter, dikasih salep dan antibiotik minum untuk mempercepat penyembuhan. Lagian, kalau penyembuhan gak dipercepat, kasian juga anaknya. Gak bisa main dan terus diasingkan dari teman-temannya. Kasian juga orang sekitarnya, semakin lama punya kemungkinan tertular. Jadi, mending buru-buru deh bakterinya disikat habis, jleb! :D

Kalau orang tua jaman dulu, anak yang Impetigo-atau kata mereka mah Suleten, biasanya diobati dengan baluran kunyit yang digoreng. Saya percaya sama kunyitnya, karena menurut google (lagi), kunyit adalah antibiotik alami yang disediakan alam. Tapi, saya gak percaya kalau harus digoreng dulu. Waktu Jiwo diobati pakai cara ini, dia sukses aja terus-terusan risih dan uring-uringan. Gimana enggak, wong seluruh badannya berbalur minyak goreng dan dibawa beraktifitas. Sukseslah dia gerah, banjir keringat dan rewel, yang ada, keringet buntetnya malah makin subur makmur. Buanyak! Untuk saya, lebih baik kunyit saja diparut lalu kasih air sedikit supaya ada sarinya. Nah, sarinya ini dibalurkan di badan anak. Lebih adem dan gak bikin hebring karena rewel yang gak udah udah :D

Pencegahan

Mencegahnya gampangs! Cukup dengan menjaga kebersihan anak, lingkungan sekitarnya dan orang-orang yang biasa bersentuhan dengannya. Kalau anak sehari-hari bersama pengasuh, pastikan si pengasuh bersih luar dalem sebelum memegang anak. Siapapun itu, apalagi baru dari berpergian, selalu pastikan untuk sudah mencuci tangan dan kaki sebelum menyentuh anak. Ganti handuk, sprei, selimut, dan cuci gendongan secara rutin. Kalau anak punya luka, seperti yang saya bilang sebelumnya, dijaga baik-baik ya :)

Sekarang, Jiwo sedang masa penyembuhan dan masih diisolasi dari teman-temannya. Kalau anak lain kena Impetigo bisa rewel seharian dan bikin emaknya stress, Jiwo tetap cengengesan dan malah sempet nemenin saya naik motor trus ke minimarket. Hihihi


Sekian ibu ibu.. bapak bapak. Semoga bermanfaat, ya! :)

28 komentar

  1. Oalah, apa dulu anak2ku kena impetigo ini yak. Persis banget dg fotomu itu, Mak. Dulu dokter bilang anak2ku kena semacam flu gitu. Flu yg disertai panas. Setelah panas reda langsung keluar bercak2 merah di telapak kaki, lama2 menyebar ke seluruh badan. Aku sampek mewek pas mandiin anakku, keciaaaan banget ngeliatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah ya mbuh.. hanya Tuhan, mak Uniek, anak anak dan aer mandi yang tau. Hahahaha
      Tapi kalo cuma bercak-bercak, bisa jadi flu luar negeri yang lagi tren itu. Kalo impetigo, sampe melepuh dan korengan. Tapi entahlah.. aku gak sedih sama sekali masa. Wong anaknya hepi hepi aja :D

      Hapus
  2. Cepet sembuh ya baby nguwilnya kak Pungky :'))

    BalasHapus
  3. Jiwoooo, ndang sehat yo Le. Tak doakan dari Jember

    BalasHapus
  4. cepet sembuh jiwo....biar bisa lomba lari sama emak bapaknya #eh

    BalasHapus
  5. lekas sembuh jiwo, biar bisa tunjukan lagi senyum tawamu :)

    BalasHapus
  6. Dulu abang Moses pernah kena cacar api. Umur 2 tahunan gitu deh. Untung gak banyak. La sedikit aja, serem liatnya. Cepet sembuh ya, Jiwo :*

    BalasHapus
  7. Keknya Faiz juga pernah gini, tapi gak mpe banyak...lupa ding...iya baju Faiz yang bebi masih sukses dalam penyimpanan yang entah kapan aku singkirkan *

    BalasHapus
  8. Aku dl pernah sakit gni...yah jaman bahela...lah skrg ank sdh SMU...sm bapak diobati dg cr tradional, dicarikan pohon cangkring...gak tau nama lain pohon itu, pohonnya berduri banyak, banyakan durinya dr daunnya. diambil batangnya trus dibakar...arangnya dimasukin bak beberapa saat dg air hangat trus, aku disuruh beremdam disitu sp air mulai dingin...alhamdulillah gak sp seminggu sembuh...tanpa ada bekas sdktpun...

    BalasHapus
  9. saya juga pernah kena penyakit inin nih ...

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. Tak pikir yang suleten itu hanya anak-anak saja lho mbak...

      Hapus
  11. Iya di rumah saya, kepercayaan dan mitos itu masih berlaku.. ada yang bilang popok terbakarlah inilah itulah....

    BalasHapus
  12. Anak sy bru berumur 11bln...kemarin malam dia demam,sy pikir itu cuma demam biasa krn lg numbuh gigi...sepanjang malam rewel tidur jg nangis terus..begitu pagi sy kaget byk bintik2 seperti kulit yg melepuh terutama pd bagian siku, lutut, telapak tangan dan telapak kaki..sy bingung mau ksh obat apa?takut salah aplgi anak sy msh bayi..sy coba browsing begitu lihat postingan ini sy jd berpikir jgn2 anak sy IMPETIGO soalnya melihat tanda2 nya sgt mirip dgn anak sy..

    BalasHapus
  13. Anak aku sekarang jg lagi key gitu umurnya baru 23 bulan.persis foto punya jiwo.pertamanya tak kira dia kena cacar air.tp bannya g panas.pertama keluar di lutut kaya berair trus digaruk pecah.sekarang tmbah lebar lukanya.diperut dinkepala sama di pundak.kasian ngliatnya.:-(.jadi rewel trus apa2 salah.

    BalasHapus
  14. anakq sekarang jg gitu mbk... :'(

    BalasHapus
  15. anakq sekarang jg gitu mbk... :'(

    BalasHapus
  16. Thanks for sharing. Jiwo, kamu punya orangtua yang hebat!

    Salam,
    Aci.

    BalasHapus
  17. Maaf ni bun, saya udah umur 20tahun. Kena kaya gitu juga. Kbetulan saya dirantauan. Saya bilang sma emak saya dikampung katanya ya gitu suleten. Kalo nurut mitos si iya juga, soalnya saya pernah buang maaf softek sm clna dalam sembarangan *dlm artian dibuang ke sampah yg bakalan dibuang/dibakar* tapi lukanya saya cuma satu kya kena kenalpot motor gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, sama mbak. Aku juga kena suleten. Kemarin di paha, sekarang di lengan. Gatel banget rasanya. Padahal udah kering lukanya, tapi masih kerasa perih.

      Hapus
  18. iya nih bund, bayiku umur 11 bulan juga kena cacar monyet. sedih liat pahanya ada koreng gitu.

    BalasHapus
  19. Kasian lho anaknya kalo dari kecil antibiotik. Kalo dokter luar negeri bahkan orang dewasa pun tidak dibiasakan antibiotik apalagi anak kecil.

    BalasHapus
  20. Kucoba pake kunyit ya. Hiks hiks sedih bgt anakku juga ada suleten tp Alhamdulillah masih wajar jumlahnya. Huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak kalau boleh tau antibiotik nya apa sekalian salepnya.. makasih

      Hapus
  21. Anak saya sekarang lagi kena seperti itu mba, sudah satu minggu Alhamdulillah lukanya sudah ada yang kering dan mengelupas..tadinya saya pikir cacar, tapi dokter bilang bukan dan hanya di kasih salep betametason

    BalasHapus